Jumat, 19 Februari 2016

PKM-P Klau jadi



PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
APLIKASI REMOTE SENSING DALAM MENENTUKAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN  (Fishing Ground) DI PERAIRAN MOTUI KABUPATEN KONAWE UTARA

BIDANG KEGIATAN :
PKM BIDANG PENELITIAN
Diusulkan Oleh :
Nama

Stambuk
Tahun Angkatan
LINDA PRATIWI (Ketua)
:
21206013
2012
FIRMAN (Anggota)
:
21206011
2012
AHMAD JAYADI (Anggota)
:
    21306005
2013


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI
KENDARI
2015
 

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Provinsi Sulawesi tenggara yang terdiri dari 651 pulau dengan panjang garis pantai 1.740 kilometer, bukan hanya mengandung potensi kekayaan perikanan dan biota laut, tetapi juga sangat potensial untuk pengembangan budidaya ikan dan industri perikanan. Perairan laut Sulawesi Tenggara sangat menjanjikan kesejahteraan rakyat bila di kelola dengan baik, karena di bawah alam laut Provinsi ini di huni beragam jenis ikan dan biota laut bernilai ekonomi tinggi.
Perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi potensial yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang semakin sulit. Peningkatan pertumbuhan manusia tidak sebanding dengan peningkatan sumber daya alam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini mendorong sektor perikanan untuk meningkatkan hasil tangkapannya. Indonesia merupakan negara perairan yang masih memiliki kendala dalam bidang penangkapan ikan. Salah satu kendala yang dihadapi oleh nelayan-nelayan Indonesia adalah keterbatasan pengetahuan dalam penentuan posisi penangkapan yang efisien atau daerah penangkapan ikan yang potensial.
Penginderaan jauh (remote sensing) merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik. Biasanya teknik ini menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya diproses dan diinterpetasikan guna menghasilkan data yang bermanfaat untuk aplikasi di bidang pertanian, perikanan, arkeologi, dan bidang-bidang lainnya (Purbowaseso 1995).
Satelit-satelit penginderaan jauh dilengkapi dengan peralatan “scanner” yang berspektra ganda, yakni suatu alat untuk mencatat radiasi yang dipantulkan melalui beberapa “band” (interval panjang gelombang elektromagnetik), yang mencakup reaksi yang berbeda-beda terhadap pantulan dan radiasi setiap objek, baik yang berada di atmosfer maupun di permukaan bumi (Suyarso 1995).
Citra Satelit adalah hasil pemotretan satelit angkasa di permukaan bumi yang berbentuk foto atau yang dikenal dengan sebutan Sin yang berbentuk jajaran genjang. Hasil pemotretan satelit tersebut akan memuat semua fenomena kejadian dipermukaan bumi termasuk fenomena perairan laut. Citra satelit memiliki resolusi yang berbeda berdasarkan ketinggian satelitnya sehingga citra yang akan digunakan dalam mengidentifikasi sebaran plankton sebagai lokasi penangkapan ikan berdasarkan klasifikasi ketajaman dalam pemotretan dilapangan dan akan mempermudah dalam mengambil suatu keputusan atau rekomendasi penangkapan ikan secara berkelanjutan.
1.2.Rumusan Masalah
Kemampuan nelayan dalam menetukan daerah penangkapan diketahui masih secara alami dan masih menggunakan alat tradisional dikarenakan pemahaman teknologi oleh masyarakat nelayan masih sangat terbatas. Sehingga, kemampuan yang dimiliki masyarakat selalu berdasarkan prakiraan atau pengalaman. Adapun masalah yang diketahui berdasrkan uraian latar belakang diatas adalah :
1.      Bagaimana mengetahui sebaran plankton dan suhu permukaan laut ?
2.      Bagaimana menentukan lokasi penangkapan ikan berdasarkan sebaran plankton dan suhu permukaan laut dengan menggunakan citra satelit ?
1.3.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengidentifikasi sebaran plankton dan suhu permukaan laut pada citra satelit
2.      Menentukan daerah penangkapan ikan berdasarkan sebaran plankton dan suhu permukaan laut dengan menggunakan citra satelit.
1.4.Luaran Yang Diharapkan                                                                                           
Luaran yang diharapkan dalam Prograqm Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian ini adalah:
-          Data Penentuan Daerah Peangkapan Ikan Menggunakan Teknologi Remote Sensing di Perairan Motui Kabupaten Konawe Utara
-          Peta Daerah Peangkapan Ikan Menggunakan Teknologi Remote Sensing di Perairan Motui Kabupaten Konawe Utara sehingga dapat dikomersilkan kepada perusahaan penangkapan berskala besar di Indonesia
-          Artikel Ilmiah mengenai Penentuan Daerah Peangkapan Ikan Menggunakan Teknologi Remote Sensing di Perairan Motui Kabupaten Konawe Utara
1.5.Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu untuk memberikan informasi terhadap nelayan dan masyarakat sekitar, agar dapat melakukan penangkapan ikan secara produktif dengan mengetahui penyebaran daerah penangkapan ikan yang potensial dan juga peneliti memperoleh informasi yang dapat memperkaya pengetahuan pada bidang daerah penangkapan ikan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Daerah Penangkapan    
Menurut Yusfiandayani (2004), penentuan daerah  penangkapan ikan yang umum dilakukan oleh nelayan sejauh ini masih menggunakan cara-cara tradisional, yang diperoleh secara turun-temurun. Akibatnya, tidak mampu mengatasi perubahan kondisi oseanografi dan cuaca yang berkaitan erat dengan perubahan daerah penangkapan ikan yang berubah secara dinamis.  Ekspansi nelayan besar ke daerah penangkapan nelayan kecil mengakibatkan terjadi persaingan yang kurang sehat bahkan sering terjadi konflik antara nelayan besar dengan nelayan kecil.
Secara garis besarnya  daerah penangkapan, penyebaran dan migrasi sangat  luas, yaitu meliputi daerah tropis dan sub tropis dengan daerah penangkapan terbesar terdapat disekitar perairan khatulistiwa. Daerah penangkapan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan. dalam hubungannya dengan alat tangkap, maka daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan dapat menguntungkan. Dalam arti ikan berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari pelabuhan   dan alat tangkap mudah dioperasikan (Sudirman, 2004).
Menurut BBPPI (2000), suatu perairan memenuhi kriteria sebagai daerah penangkapan ikan, maka:
1.      Perairan tersebut harus merupakan lingkungan yang cocok untuk hidup ikan yang menjadi sasaran penangkapan.
2.      Perairan itu mempunyai kandungan makanan yang cocok bagi ikan yang menjadi sasaran penangkapan.
3.      Perairan itu merupakan tempat perbiakan dan pemijahan yang cocok bagi ikan yang menjadi sasaran penangkapan.
1.2  Sistem Penginderaan Jauh (Remote Sensing)
Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik. Biasanya teknik ini menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya diproses dan  diinterpretasikan guna menghasilkan data yang bermanfaat untuk aplikasi di bidang pertanian, perikanan, kelautan, arkeologi dan bidang-bidang lainnya (Purbowaseso, 1995). Teknologi penginderaan jauh pada dasarnya meliputi tiga bagian utama yaitu: perolehan data, pemrosesan data dan interpretasi data. Wahana yang dipergunakan adalah pesawat udara atau satelit buatan yang telah dilengkapi dengan peralatan perekam data (sensor). Komponen dasar dari sistem penginderaan jauh antara lain : (1) gelombang elektromagnetik sebagai sumber radiasi (sumber energi) yang digunakan; (2) atmosfer sebagai media lintasan dari gelombang elektromagnetik; (3) sensor sebagai alat yang mendeteksi gelombang elektromagnetik; (4) objek. 
Sumber energi yang digunakan dalam pencitraan adalah gelombang elektromagnetik. Sumber energi dipisahkan menjadi dua, yaitu sumber energi pasif yaitu sumber energi berupa radiasi gelombang elektromagnetik matahari, dan sumber energi aktif yaitu sumber energi buatan, misalnya radar. Energi  elektromagnetik adalah paket elektris dan magnetik yang bergerak tegak lurus dengan kecepatan sinar pada frekuensi pada  panjang gelombang tertentu (Sutanto, 1987).
Sensor adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan oleh suatu benda dan mengubahnya menjadi nilai nyata yang dapat direkam atau diproses (Butler et al,  1989). Sensor dibedakan menjadi dua berdasarkan energinya yaitu sensor aktif dan sensor pasif. Sensor aktif adalah sensor yang mengiluminasikan objek dan akan menginduksi benda tersebut untuk memancarkan radiasi sehingga menyebabkan pantulan radiasi tersebut. Sensor pasif adalah sensor yang akan menerima dan merekam baris demi baris gelombang elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan bumi dan atmosfer. Semua sensor mempunyai kepekaan spektral tertentu sehingga sensor tidak peka terhadap seluruh panjang gelombang.

2.3. Suhu Permukaan Laut (SPL)
 Suhu merupakan besaran fisika yang menyatakan banyaknya bahang yang terkandung dalam suatu benda. Suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang dari sinar matahari (Weyl, 1970). Suhu perairan  bervariasi baik secara vertikal maupun horizontal. Secara horizontal suhu bervariasi sesuai dengan garis lintang dan secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Variasi suhu secara vertikal di perairan Indonesia pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga lapisan, yaitu lapisan homogen (mixed layer) di bagian atas, lapisan termoklin di bagian tengah dan lapisan dingin di bagian bawah. Lapisan homogen berkisar sampai kedalaman 50-70 meter, pada lapisan ini terjadi pangadukan air yang mengakibatkan suhu lapisan menjadi homogen (sekitar 28oC), lapisan termoklin merupakan lapisan dimana suhu menurun cepat terhadap kedalaman, terdapat pada lapisan 100-200 meter. Lapisan dingin biasanya kurang dari 5oC, terdapat pada kedalaman lebih dari 200 meter (Nontji, 1993). 
Suhu permukaan laut dipengaruhi oleh panas matahari, arus permukaan, keadaan awan, upwelling, divergensi dan konvergensi terutama pada daerah muara dan sepanjang garis pantai ( Hela dan Laevastu, 1981). Faktor-faktor meteorologi juga berperan yaitu curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas radiasi matahari. Variasi suhu musiman pada permukaan untuk daerah tropis sangat kecil, dimana variasi rata-rata musiman kurang dari 2oC yang terjadi di daerah khatulistiwa.    Suhu di perairan nusantara umumnya berkisar antara 28oC – 31oC. Pada lokasi yang sering terjadi penaikan air (upwelling) seperti di Laut Banda, suhu air permukaan bisa turun sampai 25oC karena air yang dingin di lapisan bawah terangkat ke permukaan. Suhu dekat pantai biasanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suhu di lepas pantai (Nontji, 1993). Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara 26oC – 29oC, dan variasinya mengikuti perubahan musim (Birowo, 1979). SPL hangat untuk perairan Indonesia berkisar antara 27oC-31oC dan SPL dingin berada pada kisaran dibawah 27oC.

BAB III. METODE PENELITIAN
Metode pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu:
3.1.Penentuan Lokasi Penelitian
Penelitian ini ditetapkan di perairan Kec. Motui Kab. Konawe Utara. Penentuan lokasi target penelitian akan dilakukan secara purposive (sengaja), lokasi ini diambil dengan berbagai pertimbangan karena nelayan di daerah tersebut melakukan kegiatan penangkapan ikan masih mengandalkan pengalaman dan masih menggunakan alat tradisional dikarenakan pemahaman teknologi oleh masyarakat nelayan masih sangat terbatas.
 
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

3.2. Alat  
Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat  pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat
No
Alat
Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Alat tulis
Global Positioning System (GPS)
Kapal / Perahu
Kuisioner
Laptop / Komputer
Printer
Camera Digital
Thermometer
Mencatat data pengamatan
Menentukan posisi/letak stasiun
Transportasi
Pengumpulan data primer
Mengolah data
Mencetak hasil pengolahan data
Dokumentasi
Mengukur Suhu

3.3.Jenis Dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1.      Pengambilan data primer
3.4.Tehnik Pengambilan Data
Tehnik pengambilan data yang digunakan dalam Penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
-          Observasi bertujuan untuk mengetahui lokasi penangkapan ikan oleh nelayan sebagai data dasar dalam penelitian.
-          Menentukan titik koordinat lokasi DPI menggunakan GPS yang disesuaikan dengan lokasi penangkapan ikan oleh nelayan.
-          Pengambilan data suhu pada saat proses penangkapan ikan dilakukan.



3.5.Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1.      Sebaran suhu permukaan laut
Data sebaran suhu permukaan laut diperoleh dari satelit Aqua MODIS yang telah terkoreksi secara geometrik dan radiometrik, sehingga tidak diperlukan lagi pengolahan algoritma untuk mendapatkan citra sebaran SPL dan klorofil-a. Analisis citra ini menggunakan program ENVI 4.7. Adapun  tahapan dalam analisis citra SPL mengacu pada Muklis (2008) dan Madjid (2010) sebagai berikut : pemilhan citra, pemotongan dan penajaman citra,  simulasi citra, penyebaran dan pemusatan data.
2.      Pemilihan citra
Citra setelit yang digunakan pada penelitian ini adalah citra satelit Aqua  MODIS level 3, pada level ini sudah terkoreksi radiometrik maupun geometrik dengan resolusi 4 km x 4 km. Citra yang dipilih adalah citra bulanan antara tahun 2008 – 2010 dan  harian antara bulan Oktober 2015 – Februari 2016 yang disesuaikan dengan waktu pengamatan lapangan (in-situ).
3.      Pengolahan citra
Citra satelit Aqua MODIS diolah dengan menggunakan perangkat lunak ENVI 4.7. Citra level 3 ini sudah terolah dalam format HDF  (Hierachical Data  Format)  menjadi konsentrasi suhu  permukaan laut dan  klorofil-a. Algoritma  yang dipakai untuk menghasilkan nilai distribusi suhu permukaan laut (SPL)  adalah sebagai berikut (Brown dan Minnet, 1999) :  

SST = C1+(C2 x T31)+ [C3 x (T31-32) + [C4 x (Sec(θ)-1) x (T31-32)]

Keterangan :   T31 dan T32     =  kecerahan temperatur dari kanal 31 dan 32 
θ                       = Sudut zenith Satelit (0,001) 
C1,C2,C3 dan C4 merupakan konstanta.
Algoritma OC3M adalah algoritma yang dipakai dalam pengolahan citra  satelit Aqua MODIS untuk menghasilkan konsentrasi klorofil-a. Persamaan  algoritma OC3M (O' Reilly et al. 2000) adalah : 
Keterangan :    Ca  = Konsetrasi klorofil-a (mg/m3)  
R    = Rasio reflektansi 
Rrs = Remote sensing reflektansi 
4.      Pemotongan dan penajaman citra
Pemotongan citra dilakukan untuk membatasi ruang lingkup secara spasial agar sesuai dengan area yang diteliti. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah  menganalisis fenomena yang terjadi pada area penelitian. Dalam proses ini data yang dimasukkan adalah pixel line awal dan akhir serta nilai lintang/bujur awal  dan nilai lintang/bujur akhir. 
Penajaman citra bertujuan untuk menghilangkan gangguan noise (inherent  noise) agar tidak terdapat suatu titik gelap (spotting effect) dan untuk  mendapatkan gambar yang jelas dan tegas dari fenomena oseanografi yang terlihat pada citra. Penajaman yang digunakan adalah melalui warna sehingga untuk  setiap kelas nilai digital yang berbeda diberi warna yang berlainan.
5.      Penyebaran dan pemusatan data
Analisis pemusatan dan penyebaran data bertujuan untuk melihat kecenderungan data hasil ekstraksi citra suhu permukaan laut dan  klorofil-a  antara tahun 2008-2010.  Adapun rumus yang digunakan yaitu perhitungan nilai  tengah (mean) dan standar deviasi (S) (Mattijik dan Jaya, 2006)
Keterangan : : Rataan/Mean
n     : Ukuran sampel
Xi     : Data ke-i
Standar deviasi (S) atau simpangan baku merupakan akar kuadrat dari variance (ragam). Secara matematis rumus standar deviasi, yaitu :
Keterangan :   S       = Standart Deviasi (simpangan baku)
*          = Rataan 
  Xi       = Data ke-i
Uji akurasi citra suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a satelit AquaMODIS menggunakan persamaan root mean square error (RMSE) mengacu pada Muhsoni et al (2009). Uji RMSE mencerminkan perbedaan antara nilai data  lapang dengan nilai hasil ekstraksi citra satelit
Keterangan :    Zi = Nilai ekstrkasi citra
Zj = Nilai hasil pengukuran lapangan
n   = Jumlah titik sampel
Kriteria yang digunakan untuk menilai tingkat akurasi citra Aqua MODIS level 3 mengacu pada Purwadhi (2001), dimana jika nilai RMSE lebih kecil atau  sama dengan 1 pixel (≤ 1) menandakan tingkat akurasi yang baik, sedangkan jika  nilai RMSE lebih tinggi dari 1 pixel mengindikasikan tingkat akurasi yang kurang  baik.

DAFTAR PUSTAKA
BBPPI.2000.Daerah Penangkapan Ikan. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang

Birowo, S. 1979. Kemungkinan Terjadinya Upwelling di Laut Flores dan Teluk Bone. Jakarta: Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI. Hal 1-12.
 
Brown J.O and Minnet J.P. 1999. MODIS Infrared Sea Surface Temperature  Algorithm. Algorithm Theoretical Basic Document Version 2.0. University of  Miami. Miami-Florida.

Butler, M. J. A.,  M. C. Mouchot, V. Berale dan C. Leblanc. 1989. The Aplication of The Remote Sensing Technologi to Marine Fisheries, An Introduction Manual. Rome: FAO Fisheries Paper 295. 165 p.

Hela, I. and Laevastu, T. 1970. Fisheries Oceanography and Ecology. London: Fishing News Book Ltd.

Madjid I.Y. 2010. Study of potential fishing ground for skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) in sawu sea east nusa tenggara province using satellite remote sensing and fishery data [thesis]. Denpasar: Postgraduate Program, Udayana University.

Mattjik A.A dan Jaya I.S. 2006. Perancangan Percobaan Dengan Aplikasi SAS dan MINITAB. IPB Press. Bogor.

Muklis. 2008. Pemetaan daerah penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tongkol (Euthynnus affinis) di perairan utara Nangroe Aceh Darussalam [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Muhsoni F.F, Efendy M, Triajie H. 2009. Concentration Estimate Alogarithm Model Klorofil-a Based on Satellite Image Data Lansat TM For Location Mapping Fishing Ground at Madura. Materi Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan.

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Purbowaseso, B. 1995. Penginderaan Jauh Terapan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Purwadhi S.H. 2001. Interpretasi Citra Digital. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Sudirman.2004.Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta.Jakarta.

Weyl, P.K. 1970. Oceanography An Introduction to the Marine Environment. New York: John Wiley & Sons Inc.

Yusfiandayani, R. 2004. Studi tentang Mekanisme Berkumpulnya Ikan Demersal dan Pengembangan Perikanan di Perairan Pasauran, Propinsi Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.